batikbro imlek batik

Spesial Imlek: 3 Pengaruh Besar Masyarakat Keturunan Tionghoa Pada Batik di Indonesia

Angpao diberikan. Lampion ditampilkan.

Tak hanya sekedar ditampilkan, di beberapa lokasi lampion-lampion berwarna merah menyala ini diterbangkan, diikuti berbagai panjatan doa untuk meminta jaminan kesehatan dan kelancaran rejeki. Seiring dengan terbangnya lampion ke atas langit, masyarakat keturunan Tionghoa pun bergembira, dan berteriak: Imlek telah tiba!

Pada tanggal 28 Januari tahun 2017 ini, kita akan kedatangan perayaan tahun baru China yang ke-2568. Di berbagai penjuru Indonesia, perayaan Imlek dilaksanakan dengan masif. Tak hanya diikuti oleh masyarakat keturunan Tionghoa semata, Imlek turut dirayakan oleh kelompok masyarakat lainnya pula. Di negara yang punya tingkat keberagaman tinggi dan menjunjung asas kebhinekaan seperti ini, tentu kasus ini bukanlah kondisi yang terasa nyeleneh.

Karena alasan itu lah, di tahun Ayam Api ini, kami dari tim Batikbro ingin turut menyambut kedatangan tahun baru China, dan untuk melakukannya, kami ingin merekam kembali jejak panjang pengaruh kelompok masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia dalam kebudayaan Batik di Indonesia.

Pengaruh masyarakat keturunan Tionghoa pada perkembangan kesenian Batik sendiri sangatlah luas. Mulai dari teknik pembatikan, paduan motif, pewarnaan, hingga perdagangan. Sehingga, untuk memberikan gambaran terbaik tentang pengaruh mereka terhadap kesenian Batik, akhirnya kami memilih untuk mendaftar tiga kasus di mana masyarakat keturunan Tionghoa di Indonesia memberikan pengaruh positif yang sangat besar.

Akhir kata, sebelum beranjak masuk ke dalam daftar singkat ini, ijinkan tim kami menyampaikan sejumput doa untuk seluruh sahabat keturunan Tionghoa di Indonesia.

Semoga turun hujan Imlek nanti!

1. Peleburan Ornamen dan Selera Warna Khas Negeri Tiongkok

Keberadaan pantai utara pulau Jawa yang di masa lalu menjadi tempat kedatangan para pedagang dari Arab, Belanda, China, hingga Gujarat membuat daerah tersebut bertransformasi menjadi sebuah melting pot atau tempat bercampurnya beragam budaya yang berbeda.

Pengaruh pencampuran beragam budaya tersebut tak terkecuali pada kesenian Batik di pantai utara Jawa, yang lebih dikenal sebagai Batik Pesisiran. Munculnya kain Batik tiruan kain Patola dari Gujarat, kain Buketan yang bertemakan bunga ala negeri Belanda, adalah dua contoh karya yang lahir dari konsep Melting Pot Pantura tadi.

Pengaruh kedatangan para pedagang dari China daratan pun tak kalah besarnya. Menurut sinolog Profesor Gondomono, kedatangan mereka ke pantai utara Jawa diperkirakan berawal pada abad ke-12, sebagian hanya ingin menetap sementara, namun banyak pula yang karena beragam alasan memang ingin menetap selamanya di Jawa, dan akhirnya beranak-pinak sebagai warga negara Indonesia.

Dari sekian banyak perantau yang tinggal di Jawa tersebut, tak sedikit yang kemudian memilih menjadi pedagang kain dan pakaian. Batik adalah salah satu jenis yang turut dirambah oleh mereka, dan tentunya banyak berpusat di daerah-daerah penghasil Batik seperti Lasem, Pekalongan, ataupun Indramayu.

Beberapa catatan menyebutkan warga keturunan Tionghoa sudah mulai berdagang Batik sejak abad ke-18, hal inilah yang kemudian mendasari peleburan ornamen dan warna khas China daratan ke dalam kain Batik Pesisiran.

Batik Phoenix Tionghoa

Kain batik bercorak burung Phoenix, salah satu contoh pengaruh dari negeri Tirai Bambu.

Kegemaran warga keturunan Tionghoa terhadap warna-warna merah dan kuning misalnya, membantu ‘memindahkan’ kiblat warna seni Batik Pesisiran ke arah warna-warna yang lebih cerah dan meriah. Menanggalkan warna gelap seperti biru, cokelat soga, ataupun hitam yang bagi masyarakat Jawa kuno memiliki makna dan derajat yang tinggi.

Ornamen-ornamen ala Tiongkok pun tak ketinggalan ikut melebur di dalamnya. Penggunaan hewan dalam motif adalah salah satunya. Ilustrasi hewan-hewan yang identik dengan negeri China daratan seperti Bangau, Naga, hingga Phoenix menjadi lazim digunakan dalam seni Batik Pesisiran. Sebuah pengaruh masif yang tetap terasa hingga saat ini.

2. Oey Soe Tjoen, Pembatik Legendaris Buruan Kolektor

Oey Soe Tjoen

Oey Soe Tjoen bersama Istrinya (Dokumen: Adi Kusrianto)

Oey Soe Tjoen adalah seorang pembatik legendaris dari daerah Kedungwuni, Pekalongan. Ia adalah salah satu pembatik keturunan Tionghoa yang karyanya terus menjadi buruan para kolektor Batik hingga kini.

Oey memulai usaha pembatikannya pada tahun 1930 bersama istrinya, yang juga sesama pembatik handal, Kwee Tjoan Giok (dikenal juga sebagai Kwee Netty). Meskipun berasal dari keluarga pedagang Batik Cap, Oey Soe Tjoen menolak meneruskan bisnis milik keluarganya dan memilih Batik Tulis sebagai jalan hidupnya.

Oey Soe Tjoen Signature Tanda Tangan

Bubuhan tanda tangan karya Oey Soe Tjoen (Dokumen: BatikIDku)

Oey Soe Tjoen Batik

Dokumentasi salah satu karya Oey Soe Tjoen (Dokumen: Inger McCabe Elliot)

Pada masa kejayaannya, pembatikan milik Oey Soe Tjoen dikenal sebagai tempat lahirnya kain-kain Batik yang berkualitas sangat tinggi. Karyanya diekspor ke berbagai pelosok mancanegara, pemesan berdatangan dari Eropa, Jepang, hingga Amerika.

Karya Oey Soe Tjoen dan istrinya sangat sulit ditiru desainnya. Pengerjaannya sangat halus, dilengkapi dengan isen-isen yang rumit dan dikerjakan dengan tingkat kecermatan yang sukar ditandingi. Sehingga jangan heran, sekarang karya-karya Batik Tulis klasik Oey Soe Tjoen dipatok dengan harga selangit oleh para kolektor, dianggap sebagai sebuah karya seni yang begitu tinggi kualitasnya.

Per potong saja, harganya bisa mencapai angka puluhan hingga ratusan juta rupiah!

3. Hardjonagoro, Menciptakan Karya Batik khas indonesia

Go Tik Swan Hardjonagoro

(Dokumen: Iwan Tirta)

Pembatik. Penari. Arkeolog. Pelestari Budaya.

Bila kita hanya berbicara soal jasanya terhadap kesenian Batik, boleh jadi Hardjonagoro akan berada di peringkat teratas dari seluruh bagian masyakarat keturunan Tionghoa di Indonesia.

Hardjonagoro, yang bernama asli Go Tik Swan ini adalah seorang seniman Batik yang berasal dari kota Solo, Jawa Tengah. Putra dari pedagang Batik besar, Ia dikenal sebagai inovator yang gemar bereksperimen secara berani dengan gaya-gaya motif tradisional Batik.

Jasa besar alumni Sastra Jawa Universitas Indonesia ini terhadap perkembangan Batik mencapai puncaknya di hadapan Presiden Soekarno. Pada satu kesempatan, oleh Bung Karno ia didorong untuk menciptakan karya Batik yang benar-benar khas Indonesia, bukan khas Pedalaman maupun Pesisiran.

Meskipun sempat kelabakan dengan tuntutan dari orang nomor satu Indonesia pada masanya, dengan cerdas Hardjonagoro berhasil memperkenalkan kelompok baru Batik yang khas Indonesia. Hardjonagoro memecahkan memecahkan dikotomi antara Batik Pedalaman dan Pesisiran dengan menggabungkan keduanya.

Menggunakan motif-motif klasik ala Pedalaman Keraton, ia membuatnya nampak meriah dengan paduan warna-warna khas Pesisiran, sesuatu yang sangat tidak lazim kala itu.

Di masa tuanya, pria yang juga dikenal mempunyai ketertarikan kuat terhadap kesenian Keris ini mendapatkan gelar kebangsawanan Kanjeng Panembahan dari Keraton Surakarta, dan diangkat menjadi juru bicara Keraton, sebuah kehormatan yang sangat spesial di lingkungan Keraton karena diberikan kepada seorang warga keturunan bukan Jawa.

 —

Disarikan oleh redaksi dari berbagai sumber.
Gong Xi Fa Cai!

Comments

No Comments

Post a Comment