batik parang

Batik Parang: Simbol Keagungan yang Kerap Disalahartikan

Misinterpreted

Mungkin kata ini cukup tepat untuk menggambarkan keberadaan motif Parang dalam khazanah Batik di Indonesia.

Karena namanya, nilai-nilai yang terkandung di dalam motif Parang kerap kali disalahartikan. Di masyarakat, motif Parang identik dengan nuansa kekerasan. Hal ini tidak lepas dari kata “Parang” yang memang dapat diartikan sebagai pedang. Tak hanya itu, karena alasan tertentu ia pun kerap dilarang penggunaannya oleh beberapa Keraton, sehingga lengkap lah keberadaannya sebagai motif yang liyan.

Parang, Pereng, Tebing

Bila ditilik lebih lanjut, sebenarnya nama motif Parang tidak berasal dari senjata Parang. Ia berasal dari kata “Pereng”, yang dalam bahasa Jawa berarti pinggiran suatu tebing yang menghubungkan dataran tinggi ke dataran rendah dan membentuk garis diagonal.[2] Konon, penggunaan istilah ini diilhami dari bentuk-bentuk tebing di pesisir pantai selatan pulau Jawa. Sehingga tak heran bila kita berkunjung ke provinsi Yogyakarta, ada pantai-pantai yang menggunakan nama Parang, seperti Parangtritis dan Parangkusumo.

pereng tebing

Motif parang adalah simbolisasi dari pertemuan ombak dan tebing pantai. (Photo: Sofi Mahdi Gunawan)

Kandungan nilai filosofi di dalam motif Parang pun sesungguhnya sama sekali tidak ada hubungannya dengan senjata Parang. Parang merupakan motif yang memancarkan kewibawaan. Harapan yang terkandung di dalamnya adalah agar penggunanya dapat menjadi pribadi yang teguh seperti batu karang dan mampu menjadi sumber kehidupan bagi orang-orang di sekitarnya.

Sangat jauh dari nuansa kekerasan.

Motif Parang sendiri dibentuk dari tiga bagian penting. Bagian pertama adalah ornamen ombak, yang menggambarkan cobaan dalam hidup yang datang silih berganti. Bagian kedua adalah mlinjon, bagian ini menggambarkan pusaran ombak yang melambangkan perjuangan seorang pemimpin yang penuh tantangan, seperti berada di dalam pusaran ombak. Bagian ketiga adalah sebuah simbolisasi dari burung rajawali yang tengah bertengger, sebagai lambang dari kegagahan, keprawiraan.[2]

Motif Larangan

Parang adalah sebuah motif yang sangat mencolok. Kombinasi garis-garis diagonalnya sangat mudah untuk menyita perhatian penonton dan membuat penggunanya nampak agung dan terhormat, sehingga tak heran bila beberapa Keraton pun menggunakannya sebagai bagian dari tata busana mereka.

Secara garis besar, penggunaan motif Parang di dalam Keraton dibagi menjadi tiga berdasarkan ukurannya, Parang Klithik yang paling kecil untuk kalangan putri Raja, Parang Gendreh yang berukuran sedang untuk para pangeran dan priyayi, serta Parang Barong yang berukuran paling besar untuk busana Raja.[1] Hal ini yang menjadi alasan mengapa Parang termasuk dalam motif Larangan, sebab penggunaannya dapat membuat pihak lain menjadi sama berwibawanya dengan penghuni Keraton.

Saat ini, motif Parang telah menjadi busana yang sangat umum. Masyarakat luas dengan bebas menggunakannya dalam kegiatan sehari-hari. Namun, umumnya Keraton tetap melarang masyarakat untuk menggunakannya ketika masuk ke lingkungan istana, terutama bila sang Raja tengah berada di sana.

Sultan Hamengkubuwana VII Yogyakarta Batik Parang Barong

Sultan Hamengkubuwono VII dalam balutan Batik Parang Barong.

Sultan Pakubuwana XII Surakarta Batik Parang Barong

Sunan Pakubuwono XII dalam balutan Batik Parang Barong.

Berikut adalah beberapa contoh variasi motif Parang yang relatif populer:

1. Parang Rusak

Parang Rusak adalah motif Parang yang paling mendasar. Diciptakan pertama kali oleh Sultan Agung Hanyokrokusumo dari Kerajaan Mataram Islam.[1] Konon, Beliau terinspirasi oleh rangkaian ombak yang bergulung menghantam karang ketika Beliau tengah bersemedi di pinggir pantai.

batik parang rusak

2. Parang Barong

Parang Barong adalah bentuk variasi parang yang ukurannya paling besar. Seperti dijelaskan di atas, Parang Barong hanya boleh digunakan sebagai busana Raja saja, sebagai sebuah simbolisasi kewibawaan dan kewenangan besar sang Raja.

batik parang barong by marina elphick

Batik Parang Barong khas Solo. (Photo: Marina Elphick)

3. Parang Pamor

Parang Pamor adalah variasi yang berasal dari Keraton Solo. Ia melambangkan pancaran aura menarik yang timbul dari diri penggunanya.

Batik Parang Pamor Kainusa

Batik Parang Pamor (Photo: Kainusa.id)

4. Parang Kusumo

Parang Kusumo merupakan sebuah lambang perjuangan hidup. Nilai yang terkandung adalah bahwa kehidupan manusia harus dilandasi dengan usaha dan semangat berjuang, sehingga dapat menjadi kehidupan yang harum lahir batin.

Batik Parang Kusuma

Batik Parang Kusumo (Photo: Sri Soedewi Samsi)

 —

[1] Iwan Tirta, 2009. Batik: Sebuah Lakon. Gaya Favorit Press.
[2] Adi Kusrianto, 2013. Batik: Filosofi, Motif, dan Kegunaan. Penerbit Andi.

Comments

No Comments

Post a Comment